Bakrie Telecom
Home | Downloads | Site Map | Search | Contact Us
Corporate InfoInvestor RelationsTechnologyProduct & ServicesMedia CenterCareer
Press Release
News & Events
Home arrow Media Center arrow Press Release arrow Bakrie Telecom Bukukan Kenaikan Pendapatan 125% di Tahun 2006
Bakrie Telecom Bukukan Kenaikan Pendapatan 125% di Tahun 2006

Jakarta, 20 Maret 2007

PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) berhasil membukukan kenaikan pendapatan kotor perusahaan (gross revenue) sebesar 125% dari Rp 369,1 Miliar di tahun 2005 menjadi Rp 829,4 Miliar di tahun 2006. Sementara itu pendapatan bersih perusahaan (net revenue) juga meningkat tajam sebesar 149,4% dari Rp 243,76 Miliar di tahun 2005 menjadi Rp 607,9 Miliar di tahun 2006.

Catatan biru kinerja keuangan juga ditorehkan oleh operator telekomunikasi yang baru mencatatkan sahamnya di bulan Februari 2006 ketika berhasil meraih laba bersih untuk pertama kalinya dibanding tahun sebelumnya. ”Tahun 2005, BTEL masih merugi sebesar Rp 144,3 Miliar. Sedangkan tahun ini kami mulai membalikkan situasi dengan mencapai laba bersih sebesar Rp 72,68 Miliar”, ujar Anindya N. Bakrie, Direktur Utama PT. Bakrie Telecom Tbk dalam penjelasannya ke Bapepam kemarin di Jakarta.

Catatan mengesankan juga dibukukan pada EBITDA (Earnings Before Interest, Tax, Depreciation & Amortization) yang mengalami peningkatan signifikan dari Rp 23,95 Miliar menjadi Rp 291,52 Miliar. Dengan pencapaian tersebut berarti BTEL berhasil meningkatkan kinerja EBITDA sebesar 1117,2%. Lonjakan yang sangat berarti bagi sebuah perusahaan yang baru saja memperoleh lisensi nasional dari pemerintah Desember kemarin, dimana sampai dengan akhir tahun 2006 lebih dari 98% pendapatan perusahaan hanya berasal dari 2 kota saja yaitu Jakarta dan Bandung.

Menurut Anindya, prestasi yang diraih oleh Bakrie Telecom pada tahun 2006 lalu tidak terlepas dari kinerja perusahaan dalam meningkatkan jumlah pelanggannya. Jumlah pelanggan Bakrie Telecom tumbuh hingga 218% selama tahun 2006. Jika pada tahun 2005 jumlah pelanggan Bakrie Telecom baru sebesar 486,6 ribu maka jumlah ini meningkat drastis hingga mencapai 1,547 juta pelanggan di tahun 2006.

“Melihat pencapaian pertumbuhan pelanggan dan pendapatan perusahaan pada tahun 2006 ini, serta disertai dengan upaya efisiensi pada biaya investasi dan biaya operasi yang telah kami terapkan secara konsisten, kami optimis dapat mencapai target pelanggan maupun operasi yang telah dicanangkan untuk tahun 2007,”, tutur Anindya.

Dalam RUPS Luar Biasa yang diselenggarakan pada awal bulan Februari lalu Anindya menyatakan bahwa target jumlah pelanggan BTEL untuk tahun 2007 adalah total sebesar 3,6 juta pelanggan. Dari jumlah tersebut, 3,1 juta berasal dari wilayah Jakarta, Jawa Barat dan Banten sedangkan 500 ribu sisanya akan didapat dari kota-kota nasional yang akan dibuka.

”Target jumlah pelanggan tersebut terbagi sebesar 3,1 juta di daerah lisensi kami sebelumnya, yaitu propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, dan 500 ribu pelanggan di kota-kota lainnya, yang merupakan daerah lisensi baru sehubungan dengan telah diperolehnya lisensi Nasional pada akhir tahun 2006 lalu,” paparnya

Lebih lanjut Anindya menjelaskan akan menggelar jaringan nasional di 17 kota di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, serta memenuhi target jumlah pelanggan sebanyak 3,6 juta di akhir tahun 2007 ini.

”Kami berkeinginan untuk dapat memulai layanan komersial di beberapa kota seperti Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Medan pada awal semester dua tahun ini. Kami sangat berharap agar proses realokasi frekuensi 800 MHz yang meliputi migrasi frekuensi lintas operator dapat berjalan mulus tanpa hambatan berarti, sehingga target untuk segera memulai layanan kami di wilayah nasional dapat terpenuhi”, tambahnya.

Untuk mewujudkan target tersebut, BTEL telah menganggarkan belanja modal sebesar US$ 220 juta, dengan proporsi sekitar 60% untuk pembiayaan infrastruktur, backbone transmisi jaringan dan membangun sistem IT, serta 40% sisanya untuk peralatan jaringan (Mobile Switching Center/MSC, Base Station Controller/BSC, dan Base Transceiver Station/BTS). Di tahun 2007, BTEL merencanakan untuk menggelar sekitar 800 BTS baru dan membangun beberapa MSC.

”Mengingat BTEL sebelumnya adalah operator regional yang beroperasi di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten saja, maka fokus utama kami adalah memastikan kelancaran penggelaran jaringan baru, yaitu jaringan nasional. Dalam hal ini, kami menerapkan strategi penggelaran jaringan dengan cara membangun sendiri maupun melakukan penggunaan infrastruktur bersama (kolokasi) dengan operator menara telekomunikasi”, ujar M. Buldansyah (Dany), Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk bidang Jaringan.

Menurut Dany, maraknya operator infrastruktur yang menyewakan menara telekomunikasi merupakan hal yang positif bagi industri telekomunikasi Indonesia karena dapat mempercepat waktu penggelaran dan mendukung efisiensi sumber daya nasional. ”Namun, kami masih terus mencermati strategi kolokasi ini karena tarif sewa yang diterapkan oleh beberapa operator menara masih relatif mahal, sehingga perlu melakukan perimbangan yang tepat antara membangun sendiri dan menyewa infrastruktur, agar tingkat biaya operasi (Operating Expense/OPEX) dapat tetap optimal”, jelas Dany.

”Selain itu, kami pun juga ingin memastikan bahwa proses migrasi pelanggan kami dari layanan Ratelindo ke layanan Wifone dan Esia dapat segera dituntaskan, hal mana langkah ini merupakan dukungan nyata BTEL dalam menyelesaikan proses realokasi frekuensi 800 MHz sebagaimana telah ditetapkan oleh pemerintah”, tutur Dany.

Kinerja Keuangan BTEL

Deskripsi2006 (Miliar)2005 (Miliar)Perubahan
Pendapatan Usaha829,361369,055125%
Pendapatan Usaha Bersih607,921243,757149,4%
Laba (Rugi) Usaha138,847(99,944)-
EBITDA291,51523,9491117,2%
Laba (Rugi) Bersih72,680(144,324)-

 
Corporate Info | Investor Relations | Technology | Product & Services | Media Center | Career
Home | Downloads | Site Map | Search | Contact Us