Laba Usaha Bakrie Telecom Tumbuh 10.1%

Jakarta, 31 August 2010
Logo Esia

Logo Esia

Selama enam bulan pertama tahun 2010, PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL) mencatat pertumbuhan laba usaha sebesar 10,1% atau naik dari Rp 158,6 miliar menjadi Rp 174,6 miliar. Kenaikan ini antara lain merupakan hasil dari berbagai usaha efisiensi yang dilakukan perseroan seperti berkurangnya rasio biaya-biaya operasi & pemeliharaan, umum & administrasi serta penjualan & pemasaran terhadap pendapatan.
 
Selain laba usaha, EBITDA (Earnings Before Interest, Tax, Depreciation & Amortization) juga meningkat 17.7% dari Rp 613,8 miliar menjadi Rp 722,5 miliar. Akibatnya EBITDA marjin juga meningkat dari 36.8% menjadi 42.0%. Sementara pendapatan usaha mengalami kenaikan sebesar 3.1% dari Rp 1.666,0 miliar menjadi Rp 1.718,3 miliar.
 
Sampai akhir Juni 2010, pelanggan BTEL tercatat sebanyak 11,1 juta, atau bertambah 24.7% dari 8,9 juta di Juni 2009. Pertumbuhan ini dicapai berkat inovasi yang berkelanjutan dari sisi produk dan layanan serta didukung pengenalan merek yang kuat.
 
Namun disisi lain, laba bersih semester pertama 2010 Bakrie Telecom mengalami penurunan menjadi Rp 2,7 miliar dibanding Rp 72,8 miliar pada tahun sebelumnya. Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan beban keuangan sebesar 95,3% menjadi Rp 206,3 miliar dibanding Rp 105,6 miliar pada semester pertama 2009. Lonjakan ini sejalan dengan penerbitan obligasi global senilai US$ 250 juta di kuartal kedua 2010,  yang mana dananya digunakan untuk pembiayaan kembali hutang sindikasi dan belanja modal untuk layanan internet broadband wireless access (BWA). 
 
Seperti telah diinformasikan sebelumnya pada penghujung akhir semester pertama 2010, PT Bakrie Telecom Tbk, melalui anak usahanya PT Bakrie Connectivity (BCONNECT) memperkenalkan layanan BWA (Broadband Wireless Access) yang menggunakan teknologi EVDO dengan merek AHA. Sampai saat ini AHA telah melayani 15 ribu pelanggan di 11 kota yang tersebar di Jawa, Bali dan Sumatra.

”Kami melihat potensi yang luar biasa pada layanan BWA di Indonesia, terutama mengingat jumlah pengguna internet yang masih sangat sedikit dengan tingkat penetrasi hanya sekitar 12,5%”, jelas Anindya N. Bakrie selaku Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk.
 
Berbagai terobosan dan langkah inovatif perseroan telah mendorong tingginya kepercayaan komunitas keuangan internasional terhadap kelangsungan usaha perseroan. Kepercayaan tersebut terlihat pada suksesnya penerbitan obligasi global senilai US$ 250 juta serta didapatnya fasilitas pendanaan dalam mata uang Renminbi yang nilainya setara dengan US$ 300 juta dari Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) guna pendanaan belanja modal di masa depan. Bakrie Telecom merupakan operator pertama di Asia Tenggara yang menerima fasilitas RMB Buyer’s Credit tersebut.