Inovasi yang Menyelaraskan CSR dan Bisnis Inti
Program Uber Esia Bakrie Telecom (BTEL) Peroleh Penghargaan International atas Pemberdayaan Usaha Mikro Melalui Penyediaan Layanan Warung Telekomunikasi (Wartel) dan Isi Ulang Selular
Dengan terjadinya perubahan paradigma mengenai tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), karena sekarang dibutuhkan CSR yang berkesinambungan dan sekaligus selaras dengan bisnis inti perusahaan. Hal ini yang dilakukan pada program CSR PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), yaitu Uber Esia, yang telah berhasil memanfaatkan bisnis inti perusahaan guna memberdayakan usaha mikro. Melalui program ini, masyarakat dengan pendapatan rendah dapat menjalankan usaha mikro dalam bentuk jasa wartel dan penyediaan layanan isi ulang selular, dengan menggunakan telepon selular (ponsel) Esia dan jaringan BTEL. Atas inovasi dalam memanfaatkan teknologi CDMA untuk meningkatkan kehidupan masyarakat itulah, BTEL mendapatkan penghargaan international dari CDMA Development Group (CDG) untuk kategori “Innovation in Wireless Social and Economic Solutions Development” di Shanghai, China.
“Agar sebuah program CSR memiliki nilai lebih, diperlukan keselarasan dengan bisnis inti perusahaan dan inilah yang telah kami lakukan dengan Uber Esia,” ujar Wakil Presiden Direktur BTEL Erik Meijer yang mewakili perusahaan untuk menerima penghargaan.
CDG menganugerahkan penghargaan pada BTEL atas kesuksesan program Uber Esia, yang menawarkan kesempatan pada masyarakat dengan pendapatan bulanan yang rendah (di bawah Rp700.000) untuk menjadi wirausahawan atau Village Phone Operators (VPO). Melalui sistem microfinance, para VPO membeli ponsel Esia khusus yang mereka bayar dalam jumlah yang kecil melalui cicilan harian atau mingguan. Selain itu ponsel yang mereka beli dapat langsung dipergunakan. Ponsel tersebut dapat digunakan oleh para VPO untuk jasa wartel dan penyediaan layanan isi ulang selular. Peserta program ini dapat memperoleh penghasilan tambahan sampai dengan Rp450.000 per bulan. Dalam hitungan satu tahun, jumlah ini setara dengan peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita sebesar 25 persen untuk para peserta program Uber Esia. Jumlah ini merupakan jumlah yang signifikan.
“Uber Esia membantu peserta memperoleh pendapatan tambahan dari usaha mikro mereka, membuka kesempatan bagi masyarakat sekitarnya menjadi lebih mandiri, dan menanamkan semangat kewirausahaan dalam diri mereka,” dikatakan oleh Erik.
Saat ini terdapat 3.000 wirausahawan atau VPO dalam program Uber Esia di seluruh Indonesia. Setiap VPO menyediakan layanan kepada rata-rata 50 orang per harinya di wilayah dengan layanan telekomunikasi masih terbilang mahal. Ini berarti ada sekitar 150.000 orang yang mendapatkan manfaat dari kehadiran VPO. Program ini merupakan hasil kerja sama BTEL dengan Grameen Foundation yang didirikan peraih Nobel Perdamaian Muhammad Yunus dan inisiatif Wireless Reach dari Qualcomm. Uber Esia merupakan bagian dari program global Village Phone milik Grameen Foundation. Meskipun Uber Esia merupakan bagian dari program global, namun sejak diluncurkan pada tahun 2008, program ini telah berhasil mengadaptasi model milik Grameen Foundation dengan kondisi khusus masyarakat Indonesia.
“Uber Esia merupakan sebuah contoh bahwa pola pikir kami tentang inovasi yang selalu kami gunakan dalam bisnis perusahaan juga dapat digunakan saat kami menjalankan peran kami sebagai warga korporat yang baik,” kata Erik menambahkan.
“Kami memberdayakan masyarakat dengan menyediakan ‘kail’ dan bukan ‘ikan’. Ini adalah sebuah model CSR yang mendorong perilaku wirausaha tetapi tetap berpegang pada visi BTEL bahwa telekomunikasi merupakan hak asasi bagi setiap orang Indonesia,” kata Presiden Direktur dan CEO BTEL Anindya Bakrie ketika menjelaskan inovasi BTEL atas program CSRnya.
Kesuksesan program Uber Esia merupakan salah satu alasan CDG memberikan penghargaan kepada BTEL.
“Penghargaan 3G CDMA Industry Achievement Awards 2010 ini diberikan kepada para individu dan perusahaan-perusahaan atas keunggulan mereka dalam menyediakan jaringan CDMA2000®, produk, dan layanannya,” ujar Direktur Eksekutif CDG Perry LaForge. “Program Uber Esia milik Bakrie Telecom menggunakan jaringan dan perlengkapan CDMA2000 untuk memberdayakan usaha kecil di Indonesia dengan alat telekomunikasi yang dibutuhkan agar berhasil. CDG mengucapkan selamat kepada Bakrie Telecom atas kemenangannya dalam penghargaan untuk kategori ‘Innovation in Wireless Social and Economic Solutions Development.’”
CDG adalah asosiasi perdagangan global yang dibentuk untuk mendorong kemajuan CDMA dan solusi nirkabel lainnya. Anggota mereka, yang terdiri dari para penyedia layanan dan produsen peralatan, saling berkolaborasi dalam hal pengembangan standarisasi, pendidikan, advokasi, regulasi, roaming, dan ketersediaan perangkat.
|
Gambaran Program
|
· Kolaborasi antara:
§ Bakrie Telecom (BTEL)
§ Grameen Foundation
§ inisiatif Wireless Reach dari Qualcomm
§ PT RUMA (Rekan Usaha Mikro Anda).
· Bagian dari program global Village Phone yang dikembangkan Grameen Foundation
§ BTEL mengadaptasi program tersebut untuk kondisi khusus masyarakat Indonesia sejak peluncurannya pada tahun 2008
· Konsep pengembangan usaha mikro yang diberikan kepada masyarakat pinggiran kota dalam rangka memberdayakan masyarakat melalui perangkat telekomunikasi
§ Aktivitas bisnis mencakup layanan warung telekomunikasi (wartel) dan isi ulang selular
· Dukungan yang diberikan: pendampingan usaha dan modal awal dari PT RUMA
|
|
Tujuan
|
· Menjangkau masyarakat pinggiran kota dengan daya beli yang rendah guna meningkatkan kemandirian ekonomi
· Memberikan kesempatan bagi mereka untuk memperoleh tambahan penghasilan, melalui penyediaan perangkat telekomunikasi sebagai modal usaha mereka di bidang telekomunikasi
|
|
Peserta
|
· Terbuka untuk masyarakat umum
· Peserta disebut sebagai Village Phone Operator (VPO)
· Lokasi: Serang, Tangerang, dan Bekasi
· Masyarakat dengan penghasilan bulanan yang rendah, yaitu di bawah Rp 700.000 per bulan
· Para peserta diseleksi oleh PT RUMA melalui proses penyaringan dengan menggunakan metode pengukur tingkat kemiskinan yang dikembangkan oleh Gramen Foundation.
|
|
Dampak masyarakat
|
· Telah membantu peserta memperoleh pendapatan tambahan sampai dengan Rp 450.000 per bulan
§ Dalam jangka waktu satu tahun, jumlah pendapatan tambahan tersebut setara dengan 25 persen peningkatan dalam Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita masyarakat
· Saat ini terdapat lebih dari 3.000 VPO di seluruh Indonesia
§ Setiap VPO menyediakan layanan kepada rata-rata 50 orang per hari (sekitar 150.000 orang yang mendapatkan manfaat dari kehadiran VPO)
|



