Ekonomi Hijau Jadi Keharusan Dunia

Jakarta, 11 May 2011
Ekonomi Hijau Jadi Keharusan Dunia

Dunia usaha Indonesia sudah saatnya memandang ekonomi hijau sebagai keharusan dalam praktek bisnisnya. Ekonomi hijau bukan lagi menjadi representasi tanggung jawab sosial perusahaan, tapi sudah menjelma menjadi strategi bisnis yang mempengaruhi keberlangsungan usaha perusahaan. Ekonomi hijau sudah menjadi keharusan bagi dunia usaha.

Ekonomi hijau diyakini memiliki beberapa manfaat diantaranya efisiensi melalui pengurangan biaya operasi, memperkuat brand value dan menciptakan daya saing perusahaan di tengah persaingan usaha. Karena itu dunia usaha didorong untuk tidak merasa ragu menerapkan aktivitas ramah lingkungan dalam kegiatan bisnisnya. Pada saatnya aktivitas hijau tersebut akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Ekonomi hijau adalah investasi di masa depan.

Demikian intisari gagasan yang disampaikan oleh Anindya Bakrie, Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk dihadapan peserta forum “Menuju Green Economy dengan Indeks Sri Kehati: Peluang dan Tantangannya Rabu pagi di Jakarta. Forum tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) serta dihadiri oleh direksi emiten, manager investasi dan keuangan serta perusahaan investasi.

Selain Anindya, tampil pula Ito Warsito (Dirut Bursa Efek Indonesia), Ahmad Mubariq (Senior Consultant Advisor Climate Change Policy World Bank) dan Hery Gunardi (Komisaris PT Mandiri Manajemen Investasi). Sementara Emil Salim (Dewan Pembina KEHATI) memberikan sambutan dan Nurhaida (Ketua Bapepam) menyampaikan keynote speech.

Bakrie Telecom dipilih untuk memberikan contoh-contoh penerapan aktivitas hijau dalam praktek usaha (best practices). Selama ini lewat program Hijau Untuk Negeri, Bakrie Telecom dipandang sebagai operator telekomunikasi yang aktif menerapkan berbagai aktivitas hijau sebagai strategic business.

Menurut Anindya teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia, seperti layaknya sektor industri, memiliki dampak pada lingkungan. “Penggunaan energi di kantor, pusat data, BTS (Base Tranceiver Station) dan fasilitas lainnya telah menyumbang 2% dari penggunaan energi global. Sementara itu limbah elektronik terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah pelanggan telepon selular yang telah jauh melampaui angka 150 juta pelanggan”.

Fenomena tersebut mendorong Bakrie Telecom semakin giat menerapkan aktivitas hijau di setiap lini usahanya. Pihak management telah menetapkan serangkaian target lingkungan yang agresif, diantaranya menggunakan kembali atau daur ulang 75% limbah network dan IT mulai tahun 2011, menjamin 50% biaya perusahaan sesuai dengan kriteria pembayaran yang sadar lingkungan mulai tahun 2011, mengumpulkan 50 ribu handset bekas untuk digunakan kembali (reuse) atau di daur ulang (recycle) hingga tahun 2011 serta mengurangi dampak gas emisi rumah kaca per pelanggan hingga 50% dari tingkat 2009 di tahun 2014.

Meskipun masih terlalu dini untuk bicara tentang dampak ekonominya, Anindya meyakini industri ini punya kontribusi yang besar terhadap lingkungan. Merujuk pada studi McKinsey, ia menjelaskan bahwa industri teknologi dan komunikasi punya potensi mengurangi 50% jejak karbon di tahun 2020.

“Saat ini saja kami telah berhasil melakukan efisiensi dan penghematan biaya yang cukup signifikan. Kami harapkan tidak kurang Rp 20 miliar total penghematan dari aktivitas di Hijau Untuk Negeri di tahun 2011 ini”, kata Anindya.

Karena itu kedepannya Bakrie Telecom akan semakin aktif menerapkan dan mempromosikan aktivitas hijau. Misalnya dengan bergabung dengan organisasi internasional seperti GeSI (Global e-Sustainability Initiatives) sebagai operator telekomunikasi pertama di ASEAN yang tergabung dalam GeSI (Global e-Sustainability Initiative)

Selain itu Bakrie Telecom bersama-sama dengan 5 perusahaan terkemuka tanah air lainnya sepakat untuk menjadi pelopor dan pendiri Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD). IBCSD merupakan chapter Indonesia dari World Business Council for Sustainable Development yang merupakan kerja sama sekitar 200 perusahaan terkemuka di dunia untuk mendorong pembangunan berkelanjutan.